Kamis, 11 Februari 2016

Perjalanan Menembus Empat Negara


Pengalaman jika tidak dibagi maka tidak berkah rasanya. Perkenalkan nama saya Yaser Arafat, mungkin pembaca sudah kenal saya, tapi bukan tidak mungkin jika pembaca juga tidak mengenal siapa saya. Hehehe.Bulan Januari 2016 adalah bulan yang sangat berkesan bagi saya, untuk pertama kalinya saya ke luar negeri, menjadi delegasi Universitas Andalas dalam acara Asia Pacific Youth Exchange (APYE) di Kota Mania, Philippines pada tangggal 13-17 Januari 2016. Karena mendapatkan kesempatan untuk ke luar negeri, maka saya manfaatkan sebaik mungkin, yaitu tidak tanggung-tanggung, saya langsung menjelajahi empat Negara di kawasan Asean, yaitu Malasyia, Philippines, Thailand, dan Singapore. Perjalanan ala backpacker-pun saya jalani, sebagai pemuda memang harus memiliki keberanian yang besar . Karena perjalanan ini terbagi dalam empat episode, maka saya akan membahas satu per satu.


Kuala Lumpur, Malaysia.

Tepat pada tanggal 11 Januari, pukul 08:40 WIB, penerbangan Padang-Kuala Lumpur. Saya dan teman-teman sengaja terbang pada hari itu, agar bisa mengelilingi Kota Kuala Lumpur selama sehari semalam. Sampai di Kota Kuala Lumpur kira-kira pukul 10:30 Waktu Malasyia, perasaan cemas pun sempat menyelimuti saya, yang namanya perdana ke luar negeri, pasti akan merasa takut, takut tidak bisa berkomunikasi dengan masyarakat, takut tersesat, namun ketakutan tersebut hilang setelah mendengar masyarakat Kuala Lumpur dalam bahasa Melayu, tidak jauh beda dengan bahasa Indonesia. Mendarat di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2) adalah pendaratan pertama saya di negeri orang, Kuala Lumpur memang mempunyai 2 bandara bagus, yang satunya lagi KLIA, sedangkan KLIA 2 adalah base nya pesawat Air Asia, pesawat yang kami naiki. Dari bandara KLIA2 ke pusat kota lumayan jauh, kira-kira 1 jam perjalanan menaiki Sky Bus, kami naik Bus karena harganya yang cukup murah, yaitu RM 10. Sesampai di Pusat Kota, saya dan teman-teman langsung mencari Hostel yang memang sudah kami tandai selama di Indonesia. Kami mencari Raizzy Guset House di Jalan Tun H.S Lee. Cukup sulit kami menemukan hostel ini,. Kami pun pantang menyerah, kami selalau bertanya kepada orang-orang yang kami temui, setelah berusaha kira-kira setengah jam, kami akhirnya menemui hostel ini. Biaya sewa hostel selama sehari adalah RM 32/orang, menurut kami harga yang cukup murah. Sesudah meletakkan barang-barang di kamar, kami langsung tancap gas menjelajahi kota Kuala Lumpur ini. Tempat yang pertama saya cari adalah KL sentra, karena disini adalah pusat transportasi ke seluruh sudut Kota Kuala Lumpur, baik MRT, LRT, BTS, atau Sky Train berpusat disini. Setelah sampai di KL sentra, kami langsung memesan tiket di tiket mesin otomatis, kami membeli tiket ke stasiun Batu Caves, saya kesini karena sering melihat foto-foto teman-teman saya kesini. Batu Caves terdapat patung Budha dan Snowman. Tidak ada biaya masuk ke tempat pariwisata ini, disini terdapat banyak etnis India. Setelah puas berfoto-foto di Batu Caves, maka saya melanjutkan perjalanan ke KLCC, yaitu ke Twin Tower, ikonnya kota Kuala Lumpur, saat itu sudah malam, kami sengaja malam ke sini, karena lampunya akan terlihat indah ketika malam hari. Seperti sebelumnya, tujuan ke tempat wisata adalah berfoto dan selfie sepuasnya. Setelah selesai kami kembali ke hostel untuk istirahat.

Sebelum tidur, saya mandi air panas dulu agar otak ini terasa segar dan tidur pun terasa nyenyak. Saya tidur jam 11 dan terbangun jam 5 subuh, namun di Kuala Lumpur belum juga subuh, ternyata subuh masuk jam setengah 7, karena di Malaysia +GMT 8, berbeda 1 jam dengan Waktu Indonesia Barat. Setelah selesai shalat subuh, saya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan keliling kota Kuala Lumpur, saya star jam 10, tujuan kami selanjutnya adalah dataran merdeka, sebelum ke dataran merdeka, kami makan dulu, makan nasi campur dengan harga RM 5 seporsinya, harga yang cukup murah untuk kota besar Kuala Lumpur. Setelah itu, kami main ke pasar seni, tempat jual souvenir khas Malaysia, setelah selesai belanja, kami langsung balik ke hostel, untuk Check Out, akren akami harus Check out jam 12:00. Setelah check out, kami menitipkan barang-barang kami di lobi hostel, memang gratis sampai jam 6 sore. Setelah itu, kami langsung ke Dataran merdeka dan Kuala Lumpur City Gallery (KLCG), befoto ria di tulisan 3D I Love KL, serta berfoto di depan istana Negara. Setelah puas di dataran merdeka, kami lanjut ke masjid jamek untuk melaksanakan Shalat dzuhur, karena kelelahan, kami istirahat sebentar di masjid ini. Setelah itu, kami ke hostel untuk mengambil barang dan melanjutkan perjalanan ke bandara KLIA2, karena penerbangan kami adalah pukul 21:10 malam, maka kami harus nyampai jam 7. Perjalanan ke bandara kembali naik Bus, yaitu Aero Bus. Sejam perjalanan kami sampai di KLIA2 dan langsung check in untuk penerbangan ke kota Manila.

Manila, Philippines

Tujuan utama trip ini adalah kota Manila, karena saya akan mengikuti Asia Pacific Youth Exchange (APYE). Saya dan teman-teman delegasi Unand sampai di bandara Internasional Ninoy Aquino pada jam 01:10 Dinihari waktu Manila. Kami langsung dijemput oleh panitia dan dibawa ke hotel Holiday Inn Gallerya, hotel bintang empat yang memiliki 29 lantai. Pengalaman yang cukup menyenangkan bisa menginap di lantai 18 sehingga pemandangan kota Manila terlihat begitu  indah. Di Manila saya tidak banyak jalan-jalan, karena focus ke acara APYE tersebut. Untuk hari pertama yang memang free time, maka saya dan teman-teman mencoba mencari makana halal, kami pergi ke SM Mega Mall, Mall yang begitu luas, kami cukup kesulitan mencari restoran halal, karena kegighan bertanya kepada padpao (polisi) maka kami berhasil menemukan restoran halal dengan nama The Halal Guys. Setelah makan, kami balik ke hotel untuk istirahat. Pada hari Jumat, tanggal 15 Januari adalah kegiatan konferensi, paginya kami sarapan di Lantai empat. Saya dan teman-teman muslim adalah orang yang sangat pemilih makanan pada saat itu, karena kami takut makan “Pork” alias daging babi. Meskipun ada ayam, namun tidak disembelih dengan cara Islam, maka saya tidak selera menyantapnya. Saya Cuma makan nasi dan ikan asin, yang penting kenyang dan halal. Setelah itu saya dan teman-teman ke ADB Headquarter untuk mengikuti acara konferensi. Karena hari Jumat, maka kami pergi melaksanakan Shalat Jumat. Di Negara mayoritas non muslim sangat sulit menemukan mesjid, setelah berusaha, akhirnya kami menemukan mesjid yang terletak dekat sebuah pusat perbelanjaan, namun yang mirisnya masjid tersebut berada di Basement, tempat yang tidak layak.  Pada hari Sabtu, kami kembali mengikuti konferensi dan hari minggunya saya terbang ke Bangkok, Thailand.

Bangkok, Thailand

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Itulah prinsip saya ketika pergi ke luar negeri, saya belum puas sebelum mendapatkan cap stempel dari imigrasi Thailand, karena saya memang ingin berkunjung ke Negara gajah putih ini. Saya terbang dari NAIA pada hari Minggu, pukul 08:20 pagi dan sampai bandara Suvarnhabumi (dibaca:Suvarnhabum) pada jam 10 waktu Indonesia Barat, karena waktu Bangkok sama dengan WIB. Setelah sampai di Bandara Suvarnhabumi, saya naik Sky Train dengan tarif 40 Bath (16000 Rupiah) tujuan kami adalah ke stasiun Rachaprarop, karena kami telah memesan Hostel dekat Rachaprarop Road. Setelah sampai di stasiun Rachaprarop, kami langsung mencari Link Corner, nama hostel tujuan kami. Begitu beruntungnya ketika saya melihat hostel tersebut berada bersebelahan dengan stasiun Rachaprarop. Kami langsung Check In, setelah itu kami langsung menentukan perjalanan selanjutnya, yaitu Chatucak Market, pasar tradisional terbesar di Bangkok dan hanya dibuka pada hari Minggu, pasar yang menyediakan souvenir untuk wisatawan serta sangat memanjakan mata melihat dagangan di pasar ini. Perut sudah mulai lapar, kami lansung mencari makanan halal di pasar ini, kami bertanya kepada orang-orang yang kami temui, kami disuruh membeli Kebab Turki, namun kami tidak menemui tempat penjualan kebeb tersebut. Setelah itu kami bertanya pada polisi lalu kami dituntunt ke restoran halal. Polisi yang begitu ramah. Setelah itu saya pesan makanan dengan lauk Paha Ayam, biaya sekali makan 100 Bath(meskipun minta tambah nasi).

Setelah itu, kami pulang ke hostel naik MRT. Saya sangat senang naik MRT/LRT/Monorail/skytrain karena kereta ini sangat tepat waktu dan tidak ada macet. Mungkin ini juga salah satu penyebab banyaknya turis yang datang ke sini. Pada hari kedua, kami pergi ke Wat Pho, Arun, dan Grand palace. Untuk mencapai tempat tersebut, kami harus naik MRT dan kapal boat. Untuk kapal boat, dikenakan tarif 150 Bath untuk seharian, meskipun naik berulang-ulang. Wat Pho, Arun, dan Grand palace adalah tempat wisata yang sangat terkenal di Thailand, kami puas-puas berfoto disini, meskipun cuaca Bangkok sangat panas, namun saya tetap semangat untuk mengunjungi setiap tempat wisata disini. Namun saya cukup kecewa tidak bisa melihat floating market, pasar terapung yang cuma dibuka setiap akhir pekan. Sore pun datang, saya balik ke Hostel untuk istirahat. pada hari ketiga, trip saya adalah MBK Mall. Mall recommended teman saya, karena katanya banyak barang-barang murah di mall ini. Letak mall ini dekat national stadium, kami langsung kesini, untuk membeli souvenir dan mencari makanan halal di MBK Food. Makanan hala disini cukup murah, hanya 40 Bath seporsinya, jauh beda dengan harga di Chatucak Market. Setelah itu, saya merasa bosan keliling mall ini, kami memutuskan untuk kembali ke hostel, dan pada hari keempat saya cuma santai di kamar hingga jadwal check out. Setelah check out, saya langsung ke Bandara suvarnhabumi, penerbangan sebenarnya jam 21:10, saya nyantai-nyatai di Musala bandara yang sangat bagus dan bersih hingga jam 19:00 kami check in. setelah itu kami terbang ke Negara terakhir pada trip ini, yaitu Singapore.

Singapore

Kami ke Singapore menaiki pesawat Jet Star dari Bangkok, saya mendarat di Changi Airport jam 00:30 Waktu Singapore. Saya lansgung ke imigrasi, pengalaman yang berkesan di imigrasi Singapore adalah saya sempat ditahan sebentar karena nama saya ke arab-araban. Pihak imigrasi bertanya, kenapa nama saya Yaser Arafat? Saya jawab saja karena orangtua saya yang memberi. Pihak imigrasi memeriksa paspor saya, melihat keabsahannya dan mengintrogasi saya dengan pertanyaan ada apa ke Singapore. Untung saya sudah memiliki tiket Batam Fast untuk pergi ke Batam, serta Tiket pesawat Batam-Padang. Dengan bukti tersebut saya dapat menjawab kalau saya Cuma transit sebentar di Singapore dan selanjutnya berangkat ke Batam. Saya tidur di bandara sampai jam 6 pagi, setelah itu saya keliling-keliling bandara yangt dikenal dengan bandara terbaik di dunia. Changi airport terdiri dari tiga terminal, saya berada di terminal 1. Luas sekali bandara changi ini, sehingga untuk ke terminal 3 saya harus naik sky train. Setelah puas mengelilingi setiap terminal, maka saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Marlion Park, dimana terdapat ikon Singapore berupa kepala singa. Setelah itu saya pergi ke Front harbor untuk menyebrang ke Batam. Sekitar 45 menit saya nyampai di Batam dan langsung ke bandara Hang Nadim. Nasib mujur terus menghampiri saya, saya menghubungi teman semasa Sekolah yang bekerja di Bandara ini, saya diajak tidur di kontrakannya. Karena sesekali ke batam, maka saya di ajak main ke batam center. Setelah itu malam semakin larut, dan saya pun balik istirahat dan tidur. Paginya saya diantar ke bandara dan langsung naik pesawat, karena saya telah di check ini oleh teman saya tersebut. Saya dikasih kursi VIP, karena teman saya tersebut bekerja di maskapai Lion Air yang kebetulan saya menaiki maskapai tersebut.
Itulah pengalaman perjalanan saya yang lamanya kurang lebih dua minggu. Sebuah hal yang sangat menyenangkan, penuh pengalaman berkesan, serta membuat saya yakin setiap kita memiliki kesempatan ke luar negeri, yang penting ada niat. Untuk saat ini, paspor saya telah mendapat cap stempel sebanyak 10 buah, itu merupakan hal luar biasa untuk pertama kali ke luar  negeri. Semoga teman-teman yang memiliki mimpi bisa mewujudkan mimpinya ke luar negeri.

Teman-teman saya untuk trip ini adalah Rizqi Akbar dari jurusan Teknik Elektro, Widia Astuti dan Syafni Wilma dari THP, dan saya Yaser Arafat, mahasiswa Sosiologi. Spadi Sosiologi!!

Rabu, 09 September 2015

IPK SENTRIS MENGGEROGOTI MAHASISWA



Oleh: Yaser Arafat
 
Mahasiswa sebagai kaum intelektual tentunya memiliki tanggungjawab sosial ditengah-tengah masyarakat, kemampuan hardskill dan softskill adalah dua hal yang mutlak dimiliki oleh seorang mahasiswa ketika terjun di masyarakat. Mendapatkan kemampuan yang bersifat hardskill dapat diperoleh oleh mahasiswa di dalam kelas saat perkuliahan berlangsung. Duduk manis dan mendengarkan ceramah dosen maka kemampuan hardskill pun akan diperoleh. Tetapi untuk kemampuan yang bersifat softskill tidak akan bisa didapat di bangku kelas, karena kemampuan ini hanya ada di kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler seperti mengikuti organisasi atau unit kegiatan mahasiswa yang ada di kampus.

Hal yang memprihatinkan saat ini adalah pada umumnya mahasiswa memandang organisasi adalah sesuatu yang tidak penting, ketika berfikir untuk masuk organisasi maka hal yang terbayang adalah kegiatan organisasi akan menganggu perkuliahan. Kenyataan sosial ini adalah dampak dari IPK Sentris-nya pada saat sekarang ini. Ketakutan-ketakutan IPK akan turun jika sibuk di organisasi dan jarang mengikuti perkuliahan harus diluruskan, karena tidak benar organisasi menjatuhkan IPK mahasiswa. sebenarnya terdapat gaktor lain yang menyebabkan IPK Sentris-nya mahasiswa saat ini, antara lain:

a. Tuntutan orangtua
Setiap mahasiswa tentunya memiliki tanggung jawab dan amanah yang harus dujalankan ketikan menduduki bangku perkuliahan. Orangtua yang telah susah payah mencari uang dikampung halaman adalah alasan utama jika seorang mahasiswa harus mendapatkan nilai sebaik mungkin dan tamat tepat waktu, meski pun tidak semua orangtua yang menuntut hal itu, tapi sebagai anak tentunya menjadi tanggung jawab tersendiri untuk membahagiakan orangtua lewat IPK yang memusakan.

b. Waktu perkuliahan yang tidak mendukung
                Khususnya di Universitas Andalas, waktu perkulihan sampai jam enam sore tentunya menganggu kegiatan organisasi serta mematahkan semangat mahasiswa untuk berkecimpung di organisasi. Karena kegiatan di organisasi seperti rapat dilakukan setelah perkuliahan usai. Pulang mala adalah konsekuensi tersendiri yang harus ditanggung jika mahaiswa masih ingin berorganisasi, belum lagi tugas kuliah yang deadline esok harinya.
b. Target tamat empat tahun

Sebagian besar mahasiswa Universitas Andalas adalah para penerima beasiswa.  Seperti beasiswa bidikmisi dan etos Padang.  Tuntutan tamat emapat tahun ini selalu menjadi bayang-bayang bagi mereka yang memperoleh beasiswa ini, ditambah lagi target IPK minimal juga menjadi persyaratan mempertahankan beasiswa ini.
Jika kita melihat Universitas Andalas yang telah mendapatkan akredirasi A dari BANPT pada tahun 2004 silam, tentunya semua itu tidak terlepas dari kegiatan kemahasiswa seperti keaktifan mahasiswa dalam berorganisasi. Ini adalah PR kita bersama untuk memecahkan masalah sosial ini.

Jumat, 04 September 2015

Qurban dan Solidaritas Sosial



Dalam sejarah munculnya berqurban adalah ketika nabi ibrahim mendapatkan sebuah ujian dari Allah untuk menyembelih anak semata wayang yang begitu ia sayangi, yang kisahnya tertuang di dalam Al-qur’an surat Ash shaafaat : 102-107.


“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ), dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Setiap tahunnya kaum muslim menjalankan ibadah qurban dalam rangka mensyukuri nikmat Allah dengan cara ikut berbagi kebahagiaan dengan berqurban dan membagi-bagikan daging qurban kepada kaum fakir. Memahami makna munculnya kewajiban berqurban bagi yang mampu dapat dipahami dalam konteks sosial. Pada zaman sekarang ini, masyarakat telah memiliki sifat  individual, sifat masyarakat komunal yang berfalsafah oriental (rasa kebersamaan) berangsur-angsur ke falsafah oksidental yang bersifat individualis, bahkan umat Islam yang bersaudara antar sesama umat Islam mulai teracuni oleh sifat individualis warisan bangsa barat. Dengan adanya hari raya qurban ini adalah sebuah moment penting untuk umat Islam dalam rangka meningkatkan rasa empati dan solodaritas sosial antar sesama. Ia menggerakkan emosi setiap orang untuk meluangkan sisi keberadaannya kepada yang lain dan memberikan sebagian kepemilikannya untuk berbagi kesejahteraan.

Hewan yang disembelih pada Idul Adha mengajak kita melepaskan diri dari sifat ”kebinatangan”: simbol ketidakberadaban yang bisa membunuh sistem kepedulian. Berkorban saat Idul Adha adalah momentum untuk menumbuhkan kepedulian. Tumbuhnya rasa solidaritas sosial antar sesama menjadi contoh nyata bahwa umat Islam itu bersaudara.







Silat Kumango, Seni Mempertahankan Diri Yang Harus Dipertahankan.

Manusia telah mengenal seni bela diri semenjak tahun 520 Masehi di India. Seni bela diri ini merupakan kesenian yang muncul sebagai refleksi dari manusia untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Pada dasarnya manusia memiliki insting untuk mempertahankan diri dengan kata lain dengan prilaku selalu mempertahankan diri, diseluruh penjuru dunia terdapat berbagai macam seni bela diri. Perbedaan jenis seni bela diri tidak lepas dari kultur dan budaya yang dianut masyarakat setempat.

Seni bela diri silat adalah seni bela diri yang berkembang di negara-negara Asean, dan terdapat di Indonseia, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam. Di indonesia sendiri terdapat beragam jenis seni bela diri silat, hal ini dipengaruhi oleh perbedaan kultur budaya disetiap daerah di Indonesia.  Di Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat terdapat silat kumango, berdasarkan namanya silat kumango adalah silat yang berasal dari Nagari Kumango. Silat ini diciptakan oleh Syekh Kumango pada abad ke-19.

Sebagai seni bela diri yang sudah dikenal disetiap pelosok Minangkabau, Silat Kumango merupakan seni bela diri untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, bukan untuk mencari lawan. Dalam silat, setiap manusia sebenarnya mempelajari ilmu untuk memoerluas tali silaturahmi, karena kata silat sendiri berasal dari kata silaturahmi. Dibatin mancari kawan, dilahia manacri Tuhan (Di batin mencari kawan, dilahir mencari Tuhan). Ungkapan tersebut keular dari perkataan guru besar Silat Kumango di Nagari Koto Baru, Syekh. H. Imam Mahyudin. Dt Pamangku Malin Mancahayo. 

Namun hal yang disayangkan adalah kurangnya minat generasi muda untuk melestarikan silat kumango ini, hal ini tentunya menjadi keprihatinan kita terhadap makin eksistensi buadaya lokal yang dari waktu ke waktu terus berkurang lantaran tidak adanya generasi penerus yang ikut andil mempertahankan budaya dan kearifan lokal.
Dengan berkurangnya rasa cinta tarhadap kebudayaan lokal, tampaknya sangat berbanding terbalik dengan bangsa lain yang sangat ingin mempelajari silat kumango. Di Nagari Koto Baru, banyak turis asing yang menjadi murid dari Syekh. H Imam Mahyudin. Ketika bangsa lain ikut melestarikan kebudayaan kita dan terjadi pengklaiman, seharusnya tidak sepantasnya kita marah, dan menyalahkan bangsa lain karena mengklaim kebudayaan kita. Seharusnya kita bercermin diri, menanyakan kepada diri sendiri. Siapa yang salah? Apakah mereka yang melestarikan hingga mengklaim kebudayaan kita? atau kita sendiri yang tidak melestarikannya?

Rabu, 02 September 2015

Ekonomi Moral Pedagang Kedai Lontong


Ketika berbelanja di kedai lontong di Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar kita akan terkejut dengan harga seporsi lontoong yang kita makan. Bukan mahal yang jadi masalah, tapi harganya yang dibawah harga-harga lontong daerah lain yang membuat kita terheran-heran. Perbandingan antara lontong yang kita makan dengan harga yang kita bayar sungguh jauh berbeda. Harga seporsi lontong lengkap dengan mie hanya 3000 rupiah.


Jika kita menengok secara meyeluruh masyarakat Nagari Koto Baru, begitu kuat solidaritas antar sesama, ketika ada kegiatan yang diadakan oleh pemerintahan nagari ataupun para pemuda, maka masyarakat ikut membantu untuk menyukseskannya, baik bantuan dalam bentuk non materi, maupun bantuan materi, walaupun hanya secupak beras. Tingkat solidaritas yang tinggi ini juga berimbas terhadap para pedagang lontong yang ada di nagari ini. Berdagang tidak lagi memikirkan keuntungan ekonomis, karena jika mengatakan bahwa pedagang mencari keuntungan seacara ekonomis, jelas teori ekonomi yang mengatakan “dengan modal tertentu, mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya” telah mereka patahkan. Karena realitas sosial yang ada bahwa pedagang lontong di Koto Baru tidak menjual lontong dengan harga yang “wajar”, sebagaimana harga lontong di kota dimana para pedagangnya mencari untung sebesar-besarnya.

Dalam kajian sosiologi, mengenai ekonomi moral pedagang, menjelaskan bahwa masyarakat perdesaan memiliki tingkat solidaritas yang tinggi, hingga berimbas kepada pola perdagangannya. Para pedagang tidak lagi memikirkan keuntungan materil, tapi terdapat nilai-nilai dan norma-norma disana. Misalnya nilai-nilai agama, sebagai penganut agama Islam yang mana bekerja adalah ibadah, menjadi landasan para pedagang lontong tersebut. Bagi mereka berdagang adalah ibadah, dimana dapat membantu masyarakat yang membutuhkan sarapan pagi, serta sebagai sarana menyambung tali silaturahmi dengan sesama  yang jelas-jelas telah diperintahkan dalam agama Islam.

Jadi dapat disimpulkan bahwa masyarakat yang memiliki tingkat solidaritas yang tinggi tidak lagi memikirkan keuntungan materil dalam beryindak. Pedagang lontong di Nagari Koto Baru adalah contoh nyata jika terdapat pedagang yang berdagang untuk beribadah, mencari keuntungan non-materil.

Menelusuri Keindahan Air Terjun Ngarai di Nagari Koto Baru

Siang itu setelah melatih PBB di SDN 02 Koto Baru, kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Saya, Dio, dan Haris diajak oleh anak-anak SDN 02 Koto Baru ke air terjun yang terkenal masyur di nagari tersebut, air terjun Ngarai warga setempat menamainya. Kami bertiga sebagai mahasiswa KKN tentunya sangat antusias untuk melihat keindahan yang tersembunyi dibalik hutan belantara yang begitu rimbun. Para pendatang tentunya tidak percaya akan adanya air terjun tersebut jika melihat hutan dan perbukitan yang begitu menyeramkan. Tepat pada pukul 1 siang setelah selesai shalat Dzuhur, anak-anak SD memenuhi janjinya untuk mengajak kami ke air terjun yang belum bisa kami bayangkan rupa dan bentuk keindahannya. Terbayang oleh kami perjalanan yang indah menembus hutan yang belum terjamak oleh tangan jahil manusia. Hutan yang asri adalah tempat favorit bagi saya yang begitu mencintai ketenangan. Perjalanan  kami dimulai, meskipun tanpa persiapan yang matang, karena hati ini telah penuh dengan rasa penasaran dalam beberapa hari ini. Bagaimana tidak, setiap hari selalu mendapatkan pertanyaan dari warga, apakah kami sudah ke air terjun ngarai? Jika belum, maka belum lengkap rasanya KKN di Nagari yang terletak di kaki Marapi ini.