Tampilkan postingan dengan label Berita Terkini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Terkini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Maret 2013

140 Orang Akikah Sekaligus


140 Orang Akikah Sekaligus

PATAMUAN — Sepertinya pesta, akikah berlangsung di Sungai Durian. Ada 20 sapi yang disembelih untuk itu. Jika satu sapi untuk tujuh orang, maka 20 ekor tersebut peserta aqikahnya 140 anak di Kecamatan Patamuan, Padang Pariaman.


AKIKAH

Penyembelihan dilakukan dua kali. Kamis 10 ekor dan Jumat (1/3) 10 ekor lagi. Semua peserta aqikah menyerahkan daging sapi tersebut buat keperluan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di masjid itu pada Sabtu dan Minggu.
Zulkarnidi, panitia maulid mengatakan, sepanjang sejarah inilah aqikah terbesar. Di samping dibagikan kepada masyarakat peserta, dagingnya juga digunakan buat kepentingan maulid.
Dia melihat, situasi itu mencerminkan betapa kesadaran masyarakat sangat tinggi dalam beragama. Karena aqikah hal yang dianjurkan dalam beragama.
“Dagingnya juga dibagikan lewat kupon buat kepentingan masyarakat yang berhak menerimanya. Masing-masing peserta aqikahnya membayar Rp700 ribu. Itu lengkap sekalian biaya operasional penyembelihannya oleh panitia,” ujar dia.
Menurut Zulkarnidi, yang ikut aqikah tidak semua anak yang baru lahir. Tetapi orang yang sudah berumur lanjut juga ada yang ikut, karena belum sempat diaqikahkan orangtuanya. Dengan banyaknya peserta yang ikut tahun ini, jelas meringankan biaya peringatan maulid.
Sebab, masyarakat yang pada saat maulid membawa nasi dan makanan ke masjid. Dia menyebutkan, setiap kali peringatan maulid selalu dilakukan penyembelihan aqikah.
Bustanul Arifin Khatib Bandaro, mengemukakan warga yang berminat untuk bisa mengaqikahkan anaknya di masjid itu, karena daging aqikah diserahkan kepada masyarakat dan untuk jamuan makan bersama.

Sumber: Harian Singgalang

Selasa, 26 Februari 2013

Jelang El Clasico, Jose Mourinho Sindir 'Provokator' Barcelona


Barcelona– Pelatih Real Madrid Jose Mourinho melontarkan sindiran tajam kepada Barcelona, jelang El Clasico di leg kedua semi-final Copa del Rey dinihari nanti. Dengan bernada sarkasme, Mourinho berharap Barcelona menghentikan ulah mereka dalam ‘mengatur’ wasit.
Mourinho tampaknya kesal dengan pelatih sementara Barcelona Jordi Roura, yang secara resmi meminta kepada federasi sepakbola Spanyol untuk menunjuk Alberto Undiano Mallecano sebagai wasit El Clasico.
“Saya lebih memilih belajar dari masa lalu melawan Barcelona. Yaitu sportif dan fokus pada permainan. Bukannya berbicara tentang wasit, memprovokasi mereka dalam pertandingan supaya memberi kartu kepada lawan,” kata Mourinho.
“Dan tentu saja, memberi pelajaran tentang cara bermain bola, yang seperti biasa diterapkan oleh Barcelona. Mereka akan sangat dihormati jika tetap fokus pada permainan.”
Selain itu, Mourinho juga mengaku tidak sabar lagi melawan Barcelona di Camp Nou, dan menolak mengungkapkan apakah Kaka akan dimainkan.
“Ini adalah pertandingan-pertandingan yang kami harapkan. Kami lebih suka level permainan yang tinggi,” tambahnya.
“Saya belum tahu apakah Kaka akan tampil. Bukannya saya tidak mau mengatakannya. Saya sendiri belum memikirkannya. Namun biasanya saya kurang suka membocorkannya. Kali ini saya memang belum tahu.

Alasan Ilmuwan Indonesia Hijrah

Inilah Alasan Ilmuwan Indonesia Hijrah ke Luar Negeri

Foto : Rektor ITB Akhmaloka/ITB
Foto : Rektor ITB Akhmaloka/ITB
BANDUNG - Fenomena ilmuwan Indonesia yang kerja di luar negeri tidak lepas dari kurangnya dukungan sistem pengembangan sains dan teknologi. Seandainya sistem tersebut terbangun, tentu para ilmuwan tersebut akan nyaman kerja dan melakukan penelitian di negeri sendiri.

Namun Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmaloka mengaku tidak khawatir dengan fenomena itu. Dia menilai, Justru dengan banyaknya ilmuwan Indonesia di luar negeri akan berdampak positif. Apalagi, para ilmuwan tidak bisa dicegah atau bahkan dilarang kerja di luar negeri.

Akhmaloka menuturkan pengalamannya sendiri ketika baru lulus kuliah di Inggris jurusan genetic engineering pada 1990-an. Saat itu dia langsung ditawari kerja selama tiga tahun di Inggris. Tetapi setelah meminta pendapat kepada profesornya di ITB, Akhmaloka akhirnya menolak tawaran itu. Meskipun saat itu di Tanah Air Akhmaloka belum tentu bisa mempraktikkan ilmunya mengingat masih langkanya genetic engineering.

Dia bisa memahami alasan ilmuwan yang memilih melakukan penelitian untuk negara lain. Ada perasaan tidak berguna yang dialami ilmuwan muda yang baru lulus kuliah di luar negeri ketika tiba di Tanah Air. Mereka masih muda, bahkan mungkin sudah menyandang gelar doktor atau profesor, tetapi hasil pendidikannya selama ini tak mendapat tempat ataupun dihargai.

“Doktor muda kan semangatnya tinggi, ada perasaan ilmunya tak berguna. Inilah yang kadang-kadang menyebabkan teman-teman kita itu ke luar negeri. Jadi saya tidak ingin mencegah mereka, tetapi tentu kita harus membangun sistem kita di dalam negeri sebaik mungkin,” kata Akhmaloka kepada Okezone, belum lama ini.

Selain itu, penghargaan terhadap saintis di dalam negeri juga jauh lebih kecil ketimbang di luar negeri. Di dalam negeri, tambahnya, pernah muncul keprihatinan tentang nasib peneliti lembaga pengetahuan negeri tetapi tunjangan atau gajinya sangat kecil meskipun bergelar profesor.

Menurut Ketua Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 itu, aspek lain yang tidak kalah penting adalah sarana dan prasarana penelitian, seperti laboratorium-laboratorium untuk berbagai jurusan teknik yang masih minim. "Seorang peneliti nanoteknologi tentu akan mati langkah ketika tidak ada laboratorium nanoteknologi," tuturnya.

Maka dengan kondisi itu, ungkap Akhmaloka, para peneliti pun berpaling ke luar negeri. Sebab, di sana mereka bisa menyalurkan ilmu, menemukan laboratorium, termasuk kesejahteraan.
(rfa)
Sumber: www.okezone.com