Kamis, 22 Mei 2014

My Story: Sebulan Aku Berhenti Merokok



            Rokok, siapa yang tidak kenal dengan benda yang satu ini. Semenjak kecil kita telah dikenalkan dengan rokok, apalagi jika ayah kita merupakan perokok aktif. Iklan-iklan rokok yang begitu besar di jalan raya menunjukan betapa besarnya pengaruh rokok dalam kehidupan sehari-hari. Merokok adalah kebiasaan yang bagus, itu kata mereka para perokok aktif, mereka menganggap bahwa merokok dapat memberikan inspirasi dalam berpikir, kepercayaan diri.
Namun menurut saya merokok malahan menghancurkan inspirasi dan para perokok aktif merupakan orang-orang yang tidak percaya diri. Karena pada kenyataannya mereka harus dibantu oleh benda diluar tubuh mereka agar percaya diri. Jika ditengok kebelakang, sebulan yang lalu saya adalah perokok berat, dengan kata lain, hari ini genap satu bulan saya berhenti merokok. Tidak semudah yang dibayangkan, bagaimana tersiksanya ketika harus menahan keinginan untuk menghisap benda jahat tersebut.
            Lahir di keluarga perokok membuat saya dengan cepat mengenal rokok. Almarhum ayah saya merupakan orang yang peokok berat, begitupun saudara laki-laki saya. Saya telah mengenal rokok semenjak kelas dua SD, tepatnya ketika saya telah pandai membaca, dan ayah sering menyuruh saya membeli rokok ke warung. Membeli rokok untuk ayah hampir setiap hari saya lakukan, sehingga memasuki kelas lima SD saya juga penasaran bagaimana rasanya merokok tersebut. Dengan penuh penasaran, saya dan teman-teman saya mencoba untuk menghisap rokok, disini saya tidak membeli rokok, karena takut dan tidak punya uang untuk membelinya. Saya mengumpulkan puntung rokok yang saya cari di warung-warung lalu mnghisapnya di sungai ataupun di belakang rumah. Saat itu ada sebuah kenikmatan yang saya rasakan.
            Namun, disini saya belum menjadi perokok aktif, karena pertualangan pertama saya menjadi perokok aktif adalah pada saat kelas dua SMP, memasuki lingkungan baru membuat saya sulit untuk menjaga diri, terlebih masa SMP merupakan masa transisi. Pergaulan dan ajakan teman membuat saya kembali merasakan nikmatnya rokok, karena merasa sudah besar, gaul, keren, dan orang perokok merupakan orang yang pemberani. Pemaknaan ini muncul karena pergaulan yang tidak sehat waktu saya memasuki Sekolah Menengah Pertama. Menjadi perokok aktif selama sekolah (SMP-SMA) mungkin tidak sampai satu bungkus/hari, karena masih takut dengan orangtua. Pernah suatu ketika saya ingin berhenti merokok, tepatnta pada saat kelas dua SMA, namun kenyataannya cuma sanggup dua hari.
            Setelah memasuki perguruan tinggi memmbuat saya lebih bebas, merasa telah dewasa membuat saya merasa tidak khawatir lagi merokok dekat orangtua. Masa kuliah membuat saya lebih garang merokok, yang biasanya merokok cuma setengah bungkus, setelah memasuki perguruan tinggi saya menjadi perokok berat denga merokok satu bungkus/hari. padahal di perguruan tinggi saya hidup di lingkungan bersih atau boleh dikatakan cuma saya sendiri yang merokok, hal ini yang membuat saya banyak menerima kritikan dan teguran dari teman-teman saya.
            Hingga suatu ketika saat kuliah, dosen saya berbicara mengenai mahasiswa perokok, disinilah saya merasa sadar, dan kembali berpikir untuk berhenti merokok. Saya putar otak bagaimana cara berhenti merokok, hingga suatu ketika saya diberi petunjuk oleh Allah. Mungkin ini cara terakhir, yaitu membuat perjanjian dengan teman-teman saya jika saya berhenti merokok, apabila saya merokok maka saya akan dikenai denda Rp 10.000/batang. Sungguh denda yang begitu besar, sehingga saya tidak berani lagi untuk merokok.  Bukan hal mudah berhenti merokok, trelebih saya merupakan perokok berat. Hari-hari pertama tanpa rokok rasanya begitu menyiksa, gelisah, galau, badmood, dan emosi muncul ketika berusaha menahan diri dari kebiasaan tersebut.
            Kiat-kiat yang saya lakukan agar lupa terhadap rokok adalah dengan mengemil, minum susu, olahraga, maupun menyibukan diri dengan berinteraksi dengan teman-teman saya lewat jejaring sosial. Salah satu faktor pendukung agar berhenti merokok adalah teman-teman kita sendiri, caranya kasih tahu semua teman kita bahwa kita berhenti merokok, tujuannya adalah agar kita merasa malu jika merokok lagi.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar