Minggu, 30 November 2014

Pandangan Negatif Orang Pada Saya dan Semangat Memperbaiki Diri.



Pandangan orang lain terhadap kita memang beragam, ada yang berpandangan positif, ada yang berpandangan negatif. Jika kita menerima pandangan positif mungkin saja kita bisa bahagia, senang, dan merasa tersanjung. Tapi bagaimana kalau pandangan negatif yang kita terima? Walaupun itu sekedar sebatas sudut pandang dari orang lain dan kebenarannya masih dalam tahap hipotesis yang perlu diteliti ulang kebenarannya. Namun pada prinsipnya pandangan seperti itu dapat menganggu ketenangan hidup kita, bikin kita down, marah, dan kadang putus asa sehingga terkesan menerima pandangan tersebut sebelum meneliti ulang. 


Sebagai manusia biasa kita tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, setiap kelebihan merupakan anugerah, namun kekurangan bukanlah musibah, ia adalah sebuah cobaan dari Tuhan agar kita menjadi orang penyabar serta berusaha menutupi kekurangang tersebut. Saya sering menerima pandangan negatif dan positif terhadap diri saya, teman-teman saya ada yang blak-blakan mengkritik diri saya, saya suka dikritik, namun kalau dikritik tanpa dikasih saran atau masukan yang membangun, ya itu namanya kritikan bullshit yang tujuannya hanya menjatuhkan mental kita. Kalau bicara teman. Saya pikir ini bukanlah tipe teman yang baik.  

Saya suka dikritik sekaligus dikasih solusi yang membangun, biar kritikannya pedas, namun ada manisnya dikit kalau ada solusi. Bicara pandangan negatif teman-teman terhadap saya, ada beragam pandangan negatif, mulai dari mereka yang mengatakan saya ini sombong atau angkuh. Ini yang paling tidak saya suka, mereka seenaknya mengatakan saya sombong, padahal saya merasa tidak sombong, mungkin bawaan aja, namun karena itu adalah sudut pandang orang lain, saya pun harus menerimanya dengan rendah hati (udah rendah hati saya kan? Hehehe). Mungkin saja disituasi tertentu saya bisa jadi orang yang sombong dan angkuh, kembali ke kata-kata saya diatas, kalau manusia mana ada yang sempurna, jadi kesombongan itulah yang jadi kekurangan saya. Saya sebagai makhluk Allah yang sangat mengharapkan surgaNya pasti sangat tidak ingin sikap sombong saya ini menjerumuskan saya kelubang kehancuran, baik kehancuran di dunia, maupun kehancuran di akhirat. Saya sangat takut jadi orang yang sombong, karena saya pernah melihat bahwa orang sombong banyak yang gagal karena kesombongannya. Saya telah berniat di dalam lubuk hati yang paling dalam agar sifat ini bisa dihapus dari hati saya. Mungkin dengan sedikit berbicara mampu menghapus sifat tersebut.

Selain mengatakan saya orangnya sombong, masih ada teman-teman saya yang kritikannya sama pedasnya dari yang mengatakan saya sombong tadi. Ada yang mengatakan saya ini orangnya egois. “O..em..ji.. egois bagaiamana saya ini Tuhan?” Kadang itu yang terbesit di hati saya, karena saya merasa saya bukanlah orangnya egois. Seperti sebelumnya, tentunya saya juga tidak boleh menolak mentah-mentah pandangan tersebut, saya juga harus introspeksi diri juga, mungkin saja itu benar adanya. Saya berpikir pada dasarnya manusia memang memiliki sifat ego, karena hakikatnya manusia selalu memikirkan dirinya sendiri. Namun kalau egois berarti sudah keterlaluan egonya. Saya pikir dalam-dalam ternyata memang benar terkadang saya orangnya egois, mungkin karena saya belum jadi orang yang dewasa, karena setahu saya orang dewasa itu banyak ngalahnya. Saya juga bertekad untuk menghapus sifat ini dari diri saya, saya tidak boleh lagi jadi orang egois. Titik.

Pandangan negatif tidak saja sampai disitu. Sombong dan egois akan saya hapus dari diri saya, saya sekarang harus menghapus pandangan negatif lainnya, yaitu tempramental alias tidak sabaran. Mungkin sifat ini berkorelasi dengan seifat egois tadi, namun saya disini lebih menjelaskan sifat tempramental saya. Jujur, ini saya akui sebagai sifat yang melekat pada diri saya semenjak kecil, saya tidak perlu menyebutkan darimana dan sifat siapa yang saya pake, yang pasti saya memang muda lepas kontrol, sering marah jika diusik sedikit saja. Misalnya saya diganggu sama oranglain, baik yang sama besar maupun yang lebih besar, saya pasti langsung marah dan melawan dengan penuh emosi. Namun saya tidak begitu saja membiarkan sifat ini terus tertanam dalam diri saya. Saya berusaha mendalami ilmu agama, membaca hadist-hadist nabi mengenai bahaya dan larangan emosional serta keutamaan orang yang sabar, saya berusaha meresapi satu persatu hadistnya, saya termotivasi untuk menghapus sifat ini. Untung sekarang saya sudah berhenti merokok, karena yang saya tahu kalau orang perokok itu muda depresi dan ujung-ujungnya emosi tidak terkendali.

Masih banyak pandangan negatif terhadap diri saya, namun yang paling urgen untuk diubah adalah yang saya sebutkan diatas, karena saya tidak ingin menjadi manusia gagal di dunia, dan tidak berhasil di akherat. Mengenai pandangan positif tidak perlu saya sebutkan, karena saya tidak ingin disebut sombong. Hehehe..

Tidak ada komentar :

Posting Komentar