Senin, 29 Mei 2017

Pengalaman Naik Ojek Konvensional Vs Ojek Online di Kota Padang

Ojek berbasis aplikasi telah menjamur di berbagai kota-kota besar di Indonesia, mulai dari pulau Jawa hingga ke pulau Sumatera. Dengan menggunakan aplikasi ojek online yang bisa di download di play store, maka setiap pengguna smartphone dapat menggunakan jasa ojek online tersebut. Meskipun pernah terjadi penolakan kehadiran moda transportasi berbasis onine ini oleh driver transportasi konvensional, namun kehadirannya tidak dapat terbendung lagi, karena kemudahan-kemudahan yang ditawarkan membuat ojek daring ini mendapatan tempat tersendiri di hati para penggunannya.

Di Kota Padang sendiri telah terdapat ojek onine seperti g*jek, dengan adanya ojek online ini, membuka lapangan pekerjaan tersendiri bagi berbagai kalangan, baik kalangan pelajar maupun masyarakat umum. Pengalaman saya ketika menggunakan ojek online pada hari Selasa, tanggal 23 Mei 2017, ketika saya harus membuat SKCK di kantor Polda Sumbar lama di Jl. Raden Saleh, karena derah tersebut tidak dijangkau oleh angkot maupun transpadang, maka saya memanfaatkan jasa ojek online dari depan Kantor Bank Indonesia (BI) ke Polda Sumbar lama, kira-kira jarak yang ditempuh adalah 2,8 Km dengan biaya 5.000 rupiah. Sebelumnya saya naik ojek konvensional dengan harga dua kali lipat dengan harga ojek daring tersebut. Menaiki ojek konvensional oknum ojek tersebut meminta ongkos ojek 10.000 rupiah untuk jarak yang sama. Oleh karena itu kenapa menaiki ojek daring ini menjadi pilihan utama, karena biaya jasanya cukup murah.

Tulisan ini bukan bermaksud menyudutkan salah satu pihak, ini murni pengalaman saya menaiki dua jenis ojek tersebut.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar