Jumat, 04 September 2015

Silat Kumango, Seni Mempertahankan Diri Yang Harus Dipertahankan.

Manusia telah mengenal seni bela diri semenjak tahun 520 Masehi di India. Seni bela diri ini merupakan kesenian yang muncul sebagai refleksi dari manusia untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Pada dasarnya manusia memiliki insting untuk mempertahankan diri dengan kata lain dengan prilaku selalu mempertahankan diri, diseluruh penjuru dunia terdapat berbagai macam seni bela diri. Perbedaan jenis seni bela diri tidak lepas dari kultur dan budaya yang dianut masyarakat setempat.

Seni bela diri silat adalah seni bela diri yang berkembang di negara-negara Asean, dan terdapat di Indonseia, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam. Di indonesia sendiri terdapat beragam jenis seni bela diri silat, hal ini dipengaruhi oleh perbedaan kultur budaya disetiap daerah di Indonesia.  Di Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat terdapat silat kumango, berdasarkan namanya silat kumango adalah silat yang berasal dari Nagari Kumango. Silat ini diciptakan oleh Syekh Kumango pada abad ke-19.

Sebagai seni bela diri yang sudah dikenal disetiap pelosok Minangkabau, Silat Kumango merupakan seni bela diri untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, bukan untuk mencari lawan. Dalam silat, setiap manusia sebenarnya mempelajari ilmu untuk memoerluas tali silaturahmi, karena kata silat sendiri berasal dari kata silaturahmi. Dibatin mancari kawan, dilahia manacri Tuhan (Di batin mencari kawan, dilahir mencari Tuhan). Ungkapan tersebut keular dari perkataan guru besar Silat Kumango di Nagari Koto Baru, Syekh. H. Imam Mahyudin. Dt Pamangku Malin Mancahayo. 

Namun hal yang disayangkan adalah kurangnya minat generasi muda untuk melestarikan silat kumango ini, hal ini tentunya menjadi keprihatinan kita terhadap makin eksistensi buadaya lokal yang dari waktu ke waktu terus berkurang lantaran tidak adanya generasi penerus yang ikut andil mempertahankan budaya dan kearifan lokal.
Dengan berkurangnya rasa cinta tarhadap kebudayaan lokal, tampaknya sangat berbanding terbalik dengan bangsa lain yang sangat ingin mempelajari silat kumango. Di Nagari Koto Baru, banyak turis asing yang menjadi murid dari Syekh. H Imam Mahyudin. Ketika bangsa lain ikut melestarikan kebudayaan kita dan terjadi pengklaiman, seharusnya tidak sepantasnya kita marah, dan menyalahkan bangsa lain karena mengklaim kebudayaan kita. Seharusnya kita bercermin diri, menanyakan kepada diri sendiri. Siapa yang salah? Apakah mereka yang melestarikan hingga mengklaim kebudayaan kita? atau kita sendiri yang tidak melestarikannya?

Tidak ada komentar :

Posting Komentar