Jumat, 04 September 2015

Qurban dan Solidaritas Sosial



Dalam sejarah munculnya berqurban adalah ketika nabi ibrahim mendapatkan sebuah ujian dari Allah untuk menyembelih anak semata wayang yang begitu ia sayangi, yang kisahnya tertuang di dalam Al-qur’an surat Ash shaafaat : 102-107.


“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ), dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Setiap tahunnya kaum muslim menjalankan ibadah qurban dalam rangka mensyukuri nikmat Allah dengan cara ikut berbagi kebahagiaan dengan berqurban dan membagi-bagikan daging qurban kepada kaum fakir. Memahami makna munculnya kewajiban berqurban bagi yang mampu dapat dipahami dalam konteks sosial. Pada zaman sekarang ini, masyarakat telah memiliki sifat  individual, sifat masyarakat komunal yang berfalsafah oriental (rasa kebersamaan) berangsur-angsur ke falsafah oksidental yang bersifat individualis, bahkan umat Islam yang bersaudara antar sesama umat Islam mulai teracuni oleh sifat individualis warisan bangsa barat. Dengan adanya hari raya qurban ini adalah sebuah moment penting untuk umat Islam dalam rangka meningkatkan rasa empati dan solodaritas sosial antar sesama. Ia menggerakkan emosi setiap orang untuk meluangkan sisi keberadaannya kepada yang lain dan memberikan sebagian kepemilikannya untuk berbagi kesejahteraan.

Hewan yang disembelih pada Idul Adha mengajak kita melepaskan diri dari sifat ”kebinatangan”: simbol ketidakberadaban yang bisa membunuh sistem kepedulian. Berkorban saat Idul Adha adalah momentum untuk menumbuhkan kepedulian. Tumbuhnya rasa solidaritas sosial antar sesama menjadi contoh nyata bahwa umat Islam itu bersaudara.







Tidak ada komentar :

Posting Komentar