Rabu, 02 September 2015

Ekonomi Moral Pedagang Kedai Lontong


Ketika berbelanja di kedai lontong di Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar kita akan terkejut dengan harga seporsi lontoong yang kita makan. Bukan mahal yang jadi masalah, tapi harganya yang dibawah harga-harga lontong daerah lain yang membuat kita terheran-heran. Perbandingan antara lontong yang kita makan dengan harga yang kita bayar sungguh jauh berbeda. Harga seporsi lontong lengkap dengan mie hanya 3000 rupiah.


Jika kita menengok secara meyeluruh masyarakat Nagari Koto Baru, begitu kuat solidaritas antar sesama, ketika ada kegiatan yang diadakan oleh pemerintahan nagari ataupun para pemuda, maka masyarakat ikut membantu untuk menyukseskannya, baik bantuan dalam bentuk non materi, maupun bantuan materi, walaupun hanya secupak beras. Tingkat solidaritas yang tinggi ini juga berimbas terhadap para pedagang lontong yang ada di nagari ini. Berdagang tidak lagi memikirkan keuntungan ekonomis, karena jika mengatakan bahwa pedagang mencari keuntungan seacara ekonomis, jelas teori ekonomi yang mengatakan “dengan modal tertentu, mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya” telah mereka patahkan. Karena realitas sosial yang ada bahwa pedagang lontong di Koto Baru tidak menjual lontong dengan harga yang “wajar”, sebagaimana harga lontong di kota dimana para pedagangnya mencari untung sebesar-besarnya.

Dalam kajian sosiologi, mengenai ekonomi moral pedagang, menjelaskan bahwa masyarakat perdesaan memiliki tingkat solidaritas yang tinggi, hingga berimbas kepada pola perdagangannya. Para pedagang tidak lagi memikirkan keuntungan materil, tapi terdapat nilai-nilai dan norma-norma disana. Misalnya nilai-nilai agama, sebagai penganut agama Islam yang mana bekerja adalah ibadah, menjadi landasan para pedagang lontong tersebut. Bagi mereka berdagang adalah ibadah, dimana dapat membantu masyarakat yang membutuhkan sarapan pagi, serta sebagai sarana menyambung tali silaturahmi dengan sesama  yang jelas-jelas telah diperintahkan dalam agama Islam.

Jadi dapat disimpulkan bahwa masyarakat yang memiliki tingkat solidaritas yang tinggi tidak lagi memikirkan keuntungan materil dalam beryindak. Pedagang lontong di Nagari Koto Baru adalah contoh nyata jika terdapat pedagang yang berdagang untuk beribadah, mencari keuntungan non-materil.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar