Jumat, 10 Juli 2015

KKN tidak sekedar menjalankan Program Kerja.

Kuliah kerja nyata yang dijalankan mahasiswa di pelosok nigari selama 40 hari menyisakan sejuta kenangan. KKN yang merupakan agenda wajib yang diikuti oleh mahasiswa semester enam dalam rangka menjunjung tinggi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Setiap mahasiswa wajib menjalankan program kerja berdasarkan basic ilmu masing-masing

Puluhan program kerja telah disusun jauh-jauh hari sebelum KKN dilaksanakan, cita-cita mulia yaitu mengabdi kepada masyarakat menjadi factor pendorong munculnya semangat juang untuk KKN. Namun disini saya bercerita bukan tentang program kerja,lebih dari itu. Berkumpulnya 40 orang mahasiswa dengan latar belakang ilmu yang berbeda serta tidak saling mengenal tentunya menarik untuk dibahas. Hidup didaerah pelosok yang jauh dari orangtua memupuskan sifat individualis peserta KKN tersebut. Menyatukan prinsip kebersamaan demi tercapainya tujuan mulia merupakan pokok pembahasan tulisan ini.

Banyak candaan yang muncul, jika KKN adalah ajang mencari pasangan hidup sejati alias jodoh. Mungkin hal ini tidak dapat dielakan dinegara demokrasi ini, karena diantara manusia bebas mencinta dan dicinta. Berusaha menyatukan prinsip malah terjatuh kejurang percintaan sering kita dengar dari mereka yang pernah merasakan indahnya masa-masa KKN.
KKN tidak sekedar menjalankan Program Kerja.

Program kerja memang kegiatan wajib yang harus dijalankan mahasiswa, namun waktu yang dimilki selama 40 hari tentunya menyisakan kesempatan ruang dan waktu untuk nebgikat tali persaudaraan. Tidak sekedar pertemanan biasa yang dibangun, persahabatan peserta tercipta disela-sela kegiatan. Bodoh rasanya jika KKN hanya memikirkan proker, karena kita bukanlah robot yang tidak membutuhkan robot lain untuk bertahan hidup. Kita adalah zoon politicon, makhluk social yang tidak akan bisa bertahan hidup tangpa manusia lain. Singkirkan sifat individualismu kawan!!
KKN tidak sekedar menjalankan Program Kerja.

Berusaha dewasa menghadapi mereka-mereka yang jelas kepala sama hitam, tapi pemikran sangat berbeda. Menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dengan tidak meninggikan ego masing-masing tampaknya adalah kunci munculnya rasa kebersamaan. Ringan sama dininjing, berat sama dipikul, luka satu berdarah semuanya. Itulah prinsip yang mestinya dipegang oleh kaum intelektual.

Semanagat KKN kawan!!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar