Selasa, 16 Desember 2014

Bukan Ujian Sembarangan (Karangan Fiksi)


Oleh: Yaser Arafat
Jarum jam telah menunjukan pukul 08.00. Sebenarnya jam delapan ini sudah memasuki waktu ujian. 60-an mahasiswa telah masuk kelas bersiap-siap untuk ujian, namun saat itu dosen yang mengawas belum juga hadir. Hari itu adalah hari terakkhir Ujian Akhir Semester, mahasiswa sudah mulai gelisah menunggu dosen yang bersangkutan, tersiar kabar bahwa dosen yang akan mengawas tidak bisa hadir pada hari itu. Ahirnya yang mengawas ujian saat itu adalah pegawai jurusan. Ujian hari itu benar-benar diluar prediksi mahasiswa, tiga dari lima soal yang tertuang dalam kertas ujian sangat jauh dari jangkauan kemampuan mereka, memang karena soal yang diberikan belum pernah diajarkan saat perkuliahan. 

Mereka pun tidak kehilangan akal untuk menjawab seluruh pertanyaan tersebut, beragam usaha dilakukan tidak terkecuali kecurangan-kecurangan yang memang menjadi kebiasaan mahasiswa tersebut kala ujian belangsung. Bentuk-bentuk kecurangan tersebut ada yang berupa membuka gadget dan membuka buku, memang pengawasan yang dilakukan oleh pegawai jurusan tidak seketat dosen pengampu sehingga mahasiswa itu bebas untuk berlaku curang. Walaupun mayoritas mahasiswa melakukan kecurangan, namun masih ada seorang mahasiswa yang berlaku jujur, meski ibarat oase di tengah sahara.

Dia tidak mau berlaku curang saat ujian, walaupun akhirnya dia hanya mampu menjawab dua soal, karena memang cuma dua soal yang sanggup ia jawab (yang pernah diajarkan dosennya). Rasa pesimis hadir dalam hatinya, dia yakin ujian hari itu akan gagal dan nilai yang akan dia peroleh akan jelek. Namun ia mengingat nasihat orangtuanya agar selalu pasrah kepada Allah, lalu dia  pasrah dengan seluruh kehendak Tuhan. 

Hari berlalu, pengumuman nilai ujian dilakukan oleh universitas, sebuah keajaiban muncul, ternyata nilai mayoritas mahasiswa rendah-rendah, kisaran C sampai E. Keajaiban yang dimaksud adalah ternyata nilai mahasiswa yang tidak berlaku curang tadi adalah A. Dia begitu heran dan penasaran kenapa nilai ujiannya tinggi padahal waktu ujian dia hanya menjawab dua dari lima soal yang ada. Karena rasa penasaran itu amat besar, dia pun menanyakan perihal tesebut kepada dosen pengampu mata kuliah tersebut. 

Sang dosen menjawab: “Saya sengaja memberikan soal-soal yang belum saya ajarkan dan kamu beserta teman-temanmu tidak mungkin mampu menjawabnya kecuali kalian membuka buku dan gadget (berlaku curang) saat ujian. Mayoritas teman-teman kamu menjawab semua soal dengan kecurangan, dan kamu yang cuma menjawab dua soal dan saya yakin itulah sebuah kejujuran”. Mahasiswa itupun baru paham, ternyata hari itu bukanlah ujian akhir semester, tapi merupakan ujian kejujuran.

Pesan moral dari cerita diatas adalah kita dalam setiap keadaan harus selalu berlaku jujur, jangan sampai kita jujur hanya dalam keadaan lapang, dalam keadaan sempit pun kita harus tetap berlaku jujur. Hasbunallah Wa Ni'mal Wakil.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar