Rabu, 27 Agustus 2014

Brother, Jangan Panggil Aku “Anak Bungsu”


Kita sering merasa kesal jika dipanggil dengan ungkapan-ungkapan yang tidak kita sukai, meskipun bermakna positif bagi kita, tapi kita pasti berharap teman-teman kita memanggil dengan ucapan yang pernah kita sarankan atau saat berkenalan kita menyuruh teman-teman kita memanggil dengan nama panggilan sehari hari. apa jadinya jika teman-teman kita tidak mengindahkan saran kita tersebut, kita dipanggil dengan nada lelucon, ejekan, bahkan ejekan.

Namun berbeda dengan saya, saya tidak suka dipanggil dengan panggilan lain, meskipun bermakna positif, misalnya dalam keluarga saya dipanggil dengan ucapan Anak Bungsu. Saudara-saudara saya bilang, enak jika dipanggil anak bungsu, tapi kenapa saya tidak mau dipanggil anak bungsu. Saya sebagai seseorang mahasiswa sosiologi hanyalah menjawab kepada kakak-kakak saya jika saya dengan mereka berbeda pemaknaan mengenai ucapan “Anak Bungsu” mungkin mereka memaknai sebagai kegembiraan, dimanjakan, dibela, dan senantiasa dilindungi.

Sedangkan saya?? Saya benci dipanggil “Anak Bungsu” bukan karena saya tidak menerima takdir sebagai anak bungsu, namun ungkapan “Anak Bungsu” saya maknai sebagai cengeng, anak-anak, manja, kecil, dan selalu tidak diperhitungkan dalam pengambilan keputusan dalam keluarga.
Panggil saya dengan kalimat “Yaser atau Arafat”.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar